Jumat, 21 Desember 2018

Dibalik Aksi represif RRC terhadap Uighur

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Akhir-akhir ini rame pembahasan tentang penindasan pemerintah China terhadap muslim Uighur. Sebagian besar dari laki-laki dewasa muslim uighur dimasukkan ke dalam kamp dan dipaksa menghilangkan identitas mereka.

Saat berita tersebut viral di dunia, muncul banyak aksi protes dari masyarakat dunia. Negara-negara barat dan PBB mengecam tindakan tersebut. Sementara di Jepang, dilakukan aksi long march untuk membela muslim Uighur. Umat Islam Indonesiapun tidak ketinggalan, mereka mengadakan aksi protes di depan kedubes China di Jakarta.

Banyak yang mengutuk aksi pemerintah China tersebut dan menuduh pemerintah China anti Islam. Namun, saya pribadi melihatnya ini bukan murni karena persoalan agama, tapi ada faktor lain yang menyebabkan pemerintah China berperilaku represif terhadap muslim Uighur.

Kenapa saya mengatakan kalo ini bukan murni persoalan agama? karena di China sendiri, muslim dari suku Hui (sukunya Laksamana Cheng Ho) dapat hidup aman dengan menjalankan keyakinannya serta menjalankan perekonomian seperti rakyat China lainnya. Perlu diketahui, pemerintah China bukannya tidak membolehkan rakyatnya untuk memeluk agama, mereka bahkan tidak membatasi rakyatnya untuk memeluk agama apapun (di Indonesia dibatasi hanya 6 agama yang diakui), dan juga tidak melarang rakyatnya jika tidak ingin memeluk agama apapun, dalam artian menjadi atheis atau menjadi agnostik. Mereka bahkan tidak peduli dengan semua itu. Yang mereka larang adalah rakyat yang membawa-bawa urusan agama dalam pemerintahan dan kehidupan bernegara.

Walaupun bagi kita sebagai seorang muslim, pandangan ini salah, karena agama bukan hanya tentang diri kita sendiri dan ritual ibadah semata, tetapi didalamnya mencakup segala aspek kehidupan kita mulai dari politik, ekonomi, sosial, dan lainnya yang tidak bisa dipisahkan. Tapi pandangan pemerintah China ini didasari oleh pengalaman traumatis mereka ketika masa kerajaan yang mempunyai keyakinan bahwa raja adalah "anak langit" yang kekuasaannya di bumi merupakan perwakilan dewa-dewa di langit sehingga mutlak dipatuhi. Akibatnya raja dapat berlaku sewenang-wenang kepada rakyatnya. Hal ini yang tidak mau dialami pemerintah China lagi.
Peristiwa yang terjadi di China juga mengingatkan saya dengan apa yang terjadi di Indonesia, tepatnya di Papua. Jangan-jangan apa yang dilakukan pemerintah China terhadap muslim Uighur juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua. Loh kok bisa? Ayo kita analisis.

Pada muslim Uighur, ada keinginan untuk merdeka dan mendirikan negara sendiri yaitu Turkistan Timur. Di Papua juga begitu, ingin mendirikan negara West Papua.
Pada muslim Uighur, banyak dari mereka yang dilakukan penahanan paksa tanpa proses hukum yang jelas. Di Papua juga terjadi demikian. Walaupun tidak sebanyak yang di Uighur.
Selanjutnya, banyak suku Han (mayoritas) yang bermigrasi ke wilayah Uighur sehingga rakyat Uighur yang pada mulanya mayoritas namun kini hampir menjadi minoritas dengan perbandingan 40% suku Han dan 60% suku Uighur. Di Papua juga demikian, banyaknya suku jawa yang difasilitasi oleh pemerintah bertransmigrasi ke Papua.

Kemudian, adanya upaya penghilangan identitas dan cara hidup muslim Uighur. Mereka dipaksa hidup dengan cara ala pemerintah China sehingga perekonomian mereka tergantung kepada suku Han. Hal ini juga terjadi di Papua, suku Papua yang makanan pokoknya sagu, dipaksa beralih kepada beras. Pemerintah membangun 1,2 juta hektar sawah (dan masih akan ditambah 3 juta hektar sawah lagi walaupun proyeknya masih mangkrak). Sehingga yang awalnya masyarakat Papua tidak perlu bercocok tanam, merawat bibit padi hingga tumbuh, memberi pupuk, bekerja untuk sawah milik orang lain, kini dipaksa untuk melakukan itu semua. Perekonomian mereka juga dijajah oleh pemilik pabrik khususnya sawit. Mereka terpaksa menjual tanah mereka kepada pemilik pabrik, jika tidak mau maka mereka akan dikriminalisasi, dan setelah dijual pun mereka dipaksa bekerja di tanah mereka sendiri sebagai buruh sewa. Sumber daya alam mereka, emas, tembaga, nikel, habis dikeruk sementara yang mereka dapat tidak sebanding.

Hal ini juga yang mungkin membuat pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan sikap terkait yang terjadi di Uighur, karena mereka juga melakukan hal yang sama di negeri mereka sendiri. Di satu sisi, rakyat Uighur dan rakyat Papua menganggap mereka bukan bagian dari China dan Indonesia sehingga ingin merdeka. Bagi mereka tindakan mereka ini benar. Sementara di sisi lain, pemerintah China dan Indonesia juga menganggap tindakan mereka yang melakukan represi terhadap Uighur dan Papua benar karena mereka ingin mencegah tindakan separatis.

Yah memang begitulah pertikaian. Pertikaian memang akan terjadi jika kedua pihak merasa sama-sama paling benar. Maka dari itu tindakan yang tepat untuk mengatasi ini adalah dengan duduk dimeja perundingan. Karena jika tindakan represi ini semakin gencar maka tidak mungkin akan menyulut kemarahan rakyat yang dianiaya sehingga tindakan mereka akan semakin brutal. Namun baik tindakan perundingan maupun represi sama-sama mempunyai kerugian. Jika melakukan perundingan, maka pihak pemerintah secara otomatis mengakui eksistensi pihak musuh. Sedangkan jika dilakukan represi maka pemerintah akan dianggap sebagai pelanggar HAM. Saya rasa dilema inilah yang sedang dialami oleh TNI di Papua.

Terlepas dari itu semua, kita sepakat, upaya penangkapan, penganiayaan, penghilangan identitas secara paksa yang dilakukan pada masyarakat Uighur adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Aksi protes oleh umat Islam menunjukkan bahwa mereka telah memiliki kesadaran bahwa yang di Uighur sana juga saudara mereka, karena muslim itu bersaudara. Semoga semangat persatuan di kalangan umat Islam ini semakin kuat sehingga nantinya sekat-sekat yang lain akan hilang dan kita hanya akan disatukan oleh satu entitas yaitu entitas keIslaman.

Kamis, 18 Oktober 2018

Mengenal Psikologi Islam


Asosiasi Psikologi Islam (API) merupakan satu dari 13 asosiasi atau ikatan yang ada di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Selain API, di HIMPSI juga terdapat asosiasi atau ikatan lainnya seperti Asosiasi Psikologi Kristiani (APK), Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR), Ikatan Psikologi Olahraga (IPO), Ikatan Psikoterapis Indonesia, dan lainnya dengan total 13 asosiasi atau ikatan.
Salah satu tujuan dari API adalah sebagai sarana perkembangan Psikologi Islam di Indonesia dan sekaligus memberikan banyak kemanfaatan bagi masyarakat luas. Psikologi Islam sendiri berangkat dari kenyataan bahwa psikologi kontemporer dalam perkembangannya dianggap mengalami distorsi yang fundamental, psikologi yang seharusnya membicarakan konsep jiwa, namun ternyata tidak mau tahu dengan hakikat jiwa. Serta keberatan akan praktek melandaskan kajian perilaku manusia pada hasil penelitian terhadap perilaku hewan, sehingga seolah-olah psikologi mempelajari yang “tidak berjiwa” (Mudjib & Muzakir, 2002). Kemudian psikologi kontemporer juga cenderung mengabaikan latar belakang kebudayaan dan karakteristik masyarakat. Karena teori yang dikembangkan di suatu daerah dengan budaya serta karakteristik masyarakat tertentu belum tentu sesuai untuk diaplikasikan di daerah lain dengan karakteristik masyarakat dan budaya yang berbeda.
Konsep ini juga didukung oleh seorang psikolog asal Amerika yang bernama Erich Fromm. Dia menyatakan bahwa kebutuhan utama manusia untuk hidup secara bermakna yang berwujud aktivitas menyembah Sang Pencipta, belum dipenuhi oleh peradaban Barat (Amerika). Para psikolog lain seperti P. Scott Richards dan Allen E. Bergin dari American Psychological Association (APA) juga menyatakan bahwa pentingnya memasukkan nilai religius dan spiritual dalam intervensi psikologi.
Di Indonesia, momentum Psikologi Islam diawali dengan terbitnya sebuah buku hasil karya Djamaluddin Ancok & Fuad Nasahari Suroso dengan judul Psikologi Islami, Solusi Islam  atas  Problem-problem Psikologi (1994). Kemunculan buku ini berbarengan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nasional Psikologi Islam I. Psikologi Islami didefinisikan sebagai ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia, yang berisi filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam, akal, indera dan intuisi (Ancok & Suroso, 2005). Sedang menurut Baharuddin (2005), Psikologi Islam adalah sebuah aliran baru dalam dunia psikologi yang mendasarkan seluruh bangunan teori-teori dan konsep-konsepnya kepada Islam. Dapat disimpulkan, Psikologi Islam adalah ilmu tentang jiwa dan perilaku manusia berdasarkan sumber utama Islam, yaitu Al-qur’an dan Hadis.
Ada perbedaan pendapat untuk menamai konsep psikologi baru ini dengan “Psikologi Islami” (dengan i) atau “Psikologi Islam” (tanpa i). “Psikologi Islami” mewakili pilihan para ahli untuk menonjolkan ilmu psikologi yang dilatari oleh konsep Islam, sedang “Psikologi Islam” dimaksudkan “sebagai bagian” dari studi Islam untuk menjelaskan berbagai fenomena psikologi. Semenjak berdirinya Asosiasi Psikologi Islami pada tahun 2002, nama resmi yang diakui untuk konsep psikologi baru ini adalah “Psikologi Islami” (dengan i). Namun setelah konferensi API pada tahun 2015, nama yang disepakati adalah “Psikologi Islam” (tanpa i). 
Mengenai ruang lingkup Psikologi Islam, jika ruang lingkup psikologi kontemporer terbatas pada tiga dimensi, yaitu: dimensi fisik-biologi, dimensi kejiwaan dan sosiokultural. Maka Psikologi Islam juga mencakup dimensi kerohanian (spiritual). Selain itu, terdapat beberapa alternatif metode yang bisa digunakan untuk membangun Psikologi Islam yaitu Metode Pragmatis dan Metode Idealistik (Mujib & Mudzakir, 2002). Metode Pragmatis adalah metode pengkajian dan pengembangan psikologi Islam yang mengadopsi kerangka teori-teori psikologi kontemporer yang telah mapan. Teori-teori tersebut kemudian dicarikan legalisasi dan justifikasinya dari Al-Qur’an dan Hadis. Sementara Metode Idealistik yaitu metode yang lebih mengutamakan penggalian Psikologi Islam dari ajaran Islam sendiri. Metode ini menggunakan pola deduktif dengan cara menggali premis mayor (sebagai postulasi) yang digali dari Al-Qur’an dan Hadis.
Jika tujuan Psikologi Barat hanya tiga; menguraikan, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku, maka Psikologi Islam menambah dua poin; yaitu membangun perilaku yang baik dan mendorong orang hingga merasa dekat dengan Allah SWT. Konseling Psikologi Islam tidak hanya fokus pada sekitar masalah sehat dan tidak sehat secara psikologis saja, namun juga menembus hingga bagaimana orang merasa hidupnya bermakna.
Namun perlu diingat bahwa meskipun Psikologi Islam tidak dapat terpisahkan dari agama Islam, Psikologi Islam adalah ilmu pengetahuan yang harus dikembangkan secara ilmiah. Artinya, integrasi antara psikologi dan agama tidaklah dilakukan secara ngawur atau mereduksi fenomena keagamaan menjadi semata-mata fenomena psikologi. Psikologi Islam juga tidak untuk disakralkan atau menggantikan peran agama dalam upaya mengatasi permasalahan kejiwaan.
Diatas semua itu, Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang relatif muda masih memiliki beberapa kendala sendiri saat ini seperti integrasi psikologi dengan Islam yang masih bertaraf teoritik dan belum pada tataran aplikatif serta belum adanya alat tes dalam mengukur kriteria-kriteria tertentu. Dengan semakin dikenalnya Psikologi Islam, harapannya kalangan ilmuan psikologi, praktisi, peneliti dan siapapun yang tertarik dengan Psikologi Islam dapat menemukan solusi atas permasalahan ini sehingga membuat Psikologi Islam menjadi disiplin ilmu yang kokoh.

Referensi:
Ancok, Jamaluddin Ancok & Fuad Nashori. 2005. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Badri, M. B. 1993. Dilema Psikolog Muslim. Yogyakarta: Pustaka Firdaus.
Baharuddin. 2005. Aktualisasi Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bastaman, Hanna Djumhana. 1997. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jamaluddin, Dadan dkk. 2006. Psikologi Islami, alternatif pendekatan lewat kacamata Islam, diskusi reguler jurusan Tasawuf Psikoterapi. Fakutas Ushuluddin.
Mujib, Abdul &  Mudzakir. 2001. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo.
Purwoko, Saktiyono B. 2012. Psikologi Islami: Teori dan Penelitian (cetakan kedua). Saktiyono Wordpress.

Kamis, 04 Oktober 2018

Azab, ujian, atau alamiah?


Assalamu’alaikum. Selamat malam.
Sudah lama tidak menulis, dan Alhamdulillah pada kesempatan kali ini bisa menulis kembali.
Baru-baru ini Indonesia dikejutkan dengan gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala & Palu, Sulawesi. Gempa tersebut terjadi pada tanggal 28 September 2018 pukul 18:02 WITA atau 17:02 WIB. Gempa dengan kekuatan 7,4 SR (ada yang menyebut 7.7 SR) ini diikuti oleh tsunami yang meluluhlantakkan kota Palu dan Donggala. Tak cukup sampai disitu, tak lama setelah gempa dan tsunami, terjadi fenomena Likuifaksi atau tanah bergerak yang menelan satu kompleks perumahan kedalam tanah. Sampai saat ini, 2000 orang telah dinyatakan sebagai korban dan jumlahnya terus bertambah. Kita bersedih dan berduka atas peristiwa ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menghadapi ini.
Yang menarik, banyak yang berkomentar mengenai peristiwa ini di media sosial. Ada yang beranggapan ini adalah ujian, ada yang mengatakan ini azab, dan ada yang berpendapat ini adalah kejadian alam biasa yang tida perlu disangkutpautkan dengan kehendak Tuhan. Netizen di media sosial, ramai membincangkan ini. Manakah pendapat yang benar? Menurut saya, ketika terjadi bencana alam di suatu tempat, maka yang harus diinterospeksi pertama kali adalah diri sendiri. Jadikan bencana tersebut sebagai kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah kita perbuat selama ini. Apakah yang kita lakukan telah sesuai dengan perintah Allah dan kita tidak melakukan yang dilarangnya? Apakah kita telah benar-benar memurnikan ketaatan kepada Allah dan tidak menyekutukannya? Itulah yang harus kita lakukan pertama kali saat mendengar bencana terjadi di suatu tempat.
Jangan sibuk menghakimi orang lain dengan menuduh bencana yang terjadi di tempat tersebut sebagai azab atas dosa penduduknya. Tapi berkacalah kepada diri sendiri atas apa yang telah diperbuat selama ini. Bencana tidak terjadi di tempat kalian bukan berarti kalian lebih baik dibanding penduduk yang tertimpa bencana. Bisa jadi tidak terjadinya bencana di tempat kalian adalah karena Allah sudah tidak peduli dengan kalian. Atau Allah sengaja menangguhkan bencana di tempat kalian sampai kalian terlena dengan dosa-dosa kalian. Dan bisa saja bencana yang menimpa saudara kalian di tempat lain adalah karena Allah masih sayang dengan mereka. Allah ingin mereka kembali mengingat Allah dengan memberinya bencana tesebut. Siapa tau setelah bencana itu, penduduk di daerah tersebut menjadi lebih ta’at kepada Allah. Sementara kita yang sibuk menghakimi malah tidak mendapat pelajaran dari peristiwa tersebut dan semakin jauh dari Allah. Semoga kita dijauhkan dari hal tersebut.
Sekarang pertanyaan selanjutnya? Apakah gempa dan tsunami yang terjadi atas campur tangan Allah atau hanya kejadian alamiah biasa? Saya sepakat bahwa gempa dan tsunami tersebut terjadi atas kehendak Allah. Karena bahkan satu helai daun yang gugurpun terjadi atas kehendak Allah. Apakah Allah jahat? Tidak karena bisa saja ada hikmah dibalik persitiwa tersebut yang kita tidak tau.
Apakah setiap bencana diartikan sebagai azab dari Allah? Menurut saya tidak. Bisa saja bencana tersebut terjadi karena Allah menginginkannya seperti itu, Bisa saja bencana itu memang sesuatu yang harus terjadi dan telah dituliskan di lauhul mahfudz jauh sebelum manusia tercipta. Atau bisa juga bencana itu merupakan cara Allah agar bumi kembali menemukan titik keseimbangannya. Wallahu'alam, kita tidak selalu tau apa hikmah dibalik suatu peristiwa, namun yang harus kita lakukan adalah berhusnudzan kepada Allah dan orang yang sedang ditimpa bencana serta melakukan introspeksi kepada diri sendiri.
 Demikian opini saya untuk peristiwa ini. Semoga Sulawesi cepat pulih.

Kamis, 23 Agustus 2018

Apa yang kamu cari di Psikologi?


“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka ”.
Saat pertemuan dengan dosen wali untuk persetujuan Kartu Rencana Studi, dosen wali saya menanyakan pertanyaan “Apa yang kamu cari di Psikologi?”. Ingatan saya kembali di tahun 2015 saat saya mendaftar di fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Niat awal saya hanya ingin lolos dan diterima di jurusan psikologi dan di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Setelah dinyatakan diterima, niat itu berubah menjadi saya ingin setelah lulus bekerja sebagai dosen psikologi.
Kemudian setelah saya menjalani beberapa semester di Fakultas Psikologi, saya kembali memikirkan alasan saya berada di Fakultas Psikologi. Dengan bertambahnya mata kuliah yang telah saya ambil membuat saya melihat manusia dari sudut pandang lain. Jika selama ini saya mudah sekali “menghakimi” manusia jika melakukan kesalahan, maka setelah saya belajar di psikologi saya menjadi lebih berusaha untuk tidak tergesa-gesa menghakimi seseorang atas kesalahan yang dilakukannya. Saya belajar untuk mencari tau terlebih dahulu apa yang melatarbelakangi perilaku seseorang. Karena sejatinya perilaku manusia tidak muncul begitu saja, namun dilatarbelakangi oleh pengalaman dan nilai yang dianutnya semenjak dia lahir.
Psikologi membuat saya lebih bijak. Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Saya mulai memahami bahwa setiap manusia itu unik. Setiap manusia itu istimewa. Setiap manusia itu berharga. Tinggal bagaimana caranya mengoptimalkan keistimewaan yang dimiliki manusia. Beranjak ke semester 5 membuat saya lebih sering berjumpa dengan mata kuliah berbau PIO. Saya kemudian berpikir setelah lulus untuk bekerja sebagai HRD di sebuah perusahaan. Karena dari yang saya baca karir di dunia psikologi industri dan organisasi juga bervariasi dan alumni psikologi sangat amat terbuka untuk hampir dalam berbagai jenis pekerjaan di dunia industri. Tau kenapa? Karena belajar psikologi sebenernya amat sangat simple, bahwa kita sebenarnya mempelajari alam pikiran manusia dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang kamu cari di Psikologi? Di mata kuliah metode penelitian kuantitatif dan kualitatif saya belajar berbagai metode penelitian karena psikologi juga identik dengan data statistik. Selain itu di psikologi saya juga belajar untuk bekerjasama dalam tim. Bagaimana kamu mengelola tim, goal yang ingin kamu capai, dan bagaimana setiap anggota tim kamu bersedia untuk bekerja sama dengan kamu kurang lebih belajar seperti itu.
Apa yang kamu cari di Psikologi? Seiring lamanya saya di psikologi, jawaban dari pertanyaan tersebut selalu berubah-ubah. Namun untuk saat ini yang saya yakini, yang saya cari di psikologi adalah ilmu psikologi itu sendiri. Dengan ilmu, harkat dan martabat manusia akan terangkat. Dan dengan ilmu dia akan bisa berkontribusi di masyarakat. Ilmu psikologi akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. Karena dimana ada manusia, disitu ada persoalan yang bisa diselesaikan dengan ilmu psikologi.
 - Reyhan Respati (Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga)
 - Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si., Psikolog (Guru Besar Universitas Airlangga)



Jumat, 23 Juni 2017

Catatan Keabadian: sebuah prolog

Bismillahirrahmanirrahiim..
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh...

Saat ini saya sedang mencoba membuat sebuah seri khusus berjudul "Catatan Keabadian" yang berisi pemikiran-pemikiran, gagasan, atau ide yang berkecamuk di dalam pikiran saya dalam bentuk sebuah tulisan. Nantinya kumpulan tulisan ini akan berisi kegelisahan-kegelisahan yang saya rasakan baik dari segi politik, agama, kemanusiaan ataupun hal-hal ringan seputar kampus dan percintaan. Setiap judul tulisan yang bertuliskan "Catatan Keabadian" maka pembahasannya akan seputar hal-hal yang saya sebutkan diatas. Kenapa saya beri nama "Catatan Keabadian"? Karena saya ingin tulisan ini akan tetap dibaca dari zaman ke zaman, menembus generasi ke generasi, menjadi pembelajaran untuk semua orang yang membacanya.

Karena tulisan ini berisi curahan hati dan kegelisahan saya yang paling dalam maka bisa jadi tulisan ini akan sedikit "radikal" dan menyimpang dari standar "normal" yang dianut masyarakat. Saat kalian membaca tulisan ini saya harap kalian membacanya dengan pikiran dan hati yang jernih dan tidak cepat menghakimi seseorang hanya karena berbeda gagasan dari yang kalian anut. Saat kalian menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ideologi yang kalian pegang, maka saya harap kalian tidak akan langsung berburuk sangka. Kalian bebas untuk tidak mempercayai apa yang saya tulis. Terakhir, semoga kalian bisa mengambil sisi baik dari tulisan ini nantinya.

Tunggu tulisan "Catatan Keabadian" selanjutnya.

Sabtu, 04 Maret 2017

Surau, Silat, dan Merantau.



Soekarno pernah berkata, Bekerjalah seperti orang Jawa, Berbicaralah seperti orang Batak dan Berpikirlah seperti orang Minang.

Dari dulu suku Minang dikenal turut menyumbangkan sederet tokoh-tokoh nasional yg turut andil dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sebut saja Bung Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Syafruddin Prawiranegara, M. Natsir, K.H. Agus Salim, Buya Hamka, Rasuna Said, Mohammad Yamin, Rohana Kudus dan masih banyak yg lainnya.

Kalo ditanya apa alasan dulu banyak orang Minang yg bisa berbicara di tingkat nasional hingga internasional mungkin bisa diungkapkan dalam 3 kata, yaitu: Surau, Silat, Merantau.

Surau atau Langgar merupakan tempat anak-anak minang belajar ilmu agama dan pengetahuan dasar. Sejak kecil anak-anak dibekali dasar agama yg kuat supaya dia tau untuk apa dia diciptakan dan apa yg harus dia lakukan selama di dunia. Surau juga menjadi tempat tidur bagi anak laki-laki Minang yg telah baligh karena mereka tidak mempunyai kamar sendiri di rumahnya. Mereka hanya akan pulang ke rumah pada pagi harinya utk membantu keluarga dan kembali pada sorenya. Hal ini dimaksudkan agar si anak tidak manja dan terus mengekor kepada orang tuanya.

Silat merupakan bela diri yg menjadi ciri khas suku Minang selain beberapa suku lainnya. Anak-anak Minang diajarkan silat supaya dia bisa menjaga kehormatan keluarga dan dirinya. Belajar silat bukan untuk menjadi yg terkuat, tapi diharapkan semakin berisi ilmunya semakin arif bijaksana dia dalam kehidupannya. Belajar silat biasanya dilakukan pada malam hari di halaman Surau atau Langgar dibawah bimbingan seorang guru.

Merantau, dengan merantau diharapkan anak muda Minang bisa belajar apa-apa yg belum dipelajarinya di kampung halaman. Disamping itu juga bisa menghargai adat istiadat dan budaya orang lain. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Maknanya, dimanapun kamu berada bisa menyesuaikan diri dengan norma ataupun budaya di daerah tersebut.

3 hal ini yg sekarang tidak ditemui pada masyarakat Minang modern. Sehingga bisa kita lihat sekarang sedikit sekali tokoh Minang yg bisa berbicara di tingkat nasional (walaupun masih ada). Orang Minang sekarang hanya dikenal sebagai pedagang, padahal kalau kita melihat ke belakang masyarakat Minang juga pernah melahirkan pemikir-pemikir hebat yg turut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Mungkin akan sangat sulit jika kita kembali menghidupkan gerakan surau, silat dan merantau ini. Tapi mungkin bisa kita carikan program sejenis yg sesuai dg kondisi zaman saat ini. Hal ini hendaknya menjadi pemikiran kita bersama sehingga ke depannya masyarakat Minang juga bisa kembali aktif berkontribusi di kancah nasional hingga internasional untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Sabtu, 28 Januari 2017

Pendakian Gunung Talang





Assalamu’alaikum gengs…
Hari ini aku sedikit mau flashback ke saat pendakian ke gunung Talang. Udah agak lama sih sebenernya, tanggal 6-7 Agustus 2016. Tapi sayang rasanya kalo kisah perjalanan aku dan teman-teman ketika itu dilewatkan. Sejujurnya, memoriku tidak cukup baik. Aku berusaha mengingat secara detail anteseden, behavior hingga consequence petualangan tersebut. Semoga ga ada yang kelupaan.
Ini semua berawal dari libur semester genap. Libur semester genap selalu dimanfaatkan oleh teman-teman SMA ku untuk pulang kampung. Sebenernya, libur semester ganjilpun mereka pulang. Tapi karena libur semester genap selalu diiringi dengan libur hari raya maka lebih banyak yang pulang.
Liburan kali ini tak ada niatan untuk mendaki gunung. Rasanya pengen istirahat sejenak dari kegiatan mendaki. Aku dan teman-teman sudah cukup menikmati liburan yang seru dengan mengunjungi pantai, menyeberang ke pulau, dan menjelajah bukit. Sampai menjelang akhir masa liburan, saat teman-teman SMA ku satu persatu balik ke perantauannya, hanya tinggal beberapa orang yang masih bertahan di kampung halaman. Kegabutan sudah mulai terasa, kami sudah bosan bermain werewolf hampir setiap malam dan pulang selalu dini hari. Jumlah pemainpun semakin berkurang karena satu persatu pemainnya sudah balik ke kampus masing-masing.
Sampai pada suatu ketika, Agung mengajak kami yang tersisa untuk camping di perbukitan pinggiran kota. Dia menemukan tempat yang bagus disana. Aku, Zakhwan, Rezki menyanggupi ide tersebut. Seengganya kami bisa santai sambil menikmati alam barang sebentar menjelang kuliah. Pada hari Jum’at aku dan Agung pergi ngesurvei lokasi camping. Setelah tanya ibuk-ibuk, bapak-bapak yang punya anak, akhirnya kami menemukan lokasinya. Lokasinya ternyata berada di tempat paralayang, dengan sedikit tempat datar dan selebihnya tebing landai berujung curam. Salah posisi dikit ketika tidur maka akan berakhir dengan berguling-guling menuju jurang. Tapi kami menemukan tempat yang bagus di dekat sana yang cocok untuk jadi lokasi camping. Kemudian kami kembali ke rumah dan mulai mempersiapkan barang-barang buat camping. Keesokan harinya, Sabtu 6 Agustus, kami berkumpul di rumah Agung. Ketika sedang mempersiapkan beberapa peralatan lainnya, Bintang, adik Agung memberitahu bahwa malam ini milky way atau gugusan Bima Sakti akan terlihat jelas. Aku segera teringat pada berita yang aku lihat di Instagram yang juga menceritakan hal yang sama. Kemudian Agung mengusulkan agar tempat camping kami berubah. Kita akan mendaki gunung Gunung Talang untuk melihat milky way yang lagi bagus-bagusnya malam ini. Tanpa pikir panjang, Aku, Zakhwan dan Rezki mengiyakan. Cepat sekali pikiran kami berubah. Akhirnya rencana camping kami yang semula di daerah perbukitan pinggiran kota berubah menjadi di Gunung Talang.
Gunung Talang merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2597 mdpl yang terletak di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Lokasinya sekitar 9 km dari Arosuka, ibukota Kabupaten Solok atau sekitar 40 km dari kota Padang. Gunung Talang merupakan satu dari 3 gunung di Sumatera Barat yang diminati pendaki selain Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Apalagi dengan dibukanya rute baru melalui “Air Batumbuk” pada akhir tahun 2013 kemaren membuat jumlah pendaki semakin meningkat. Melalui rute Air Batumbuk inilah kami berempat akan mendaki.
Selepas sholat maghrib kami segera berangkat menuju pos pendakian. Sepanjang perjalanan aku tetap mengawasi keadaaan langit mengantisipasi jika cuaca mendadak berubah. Walaupun keinginan mendaki begitu besar tapi kami tetap harus berpikiran logis dan tidak menentang alam karena kami ingin pendakian ini menjadi perjalanan yang menyenangkan dan bukannya menyiksa diri. Beruntung cuaca malam itu bagus walaupun langit tidak begitu jelas karena ditutupi sedikit awan. Di perjalanan kami mampir ke beberapa toko untuk membeli beberapa biskuit, mie instan, telur, tali rafia dan perlengkapan yang masih kurang untuk keperluan pendakian. Butuh waktu sekitar 1 jam dari rumah Agung untuk sampai ke pos pendakian di Air Batumbuk. Pos pendakian ditandai oleh sebuah plang Masjid Muhajirin di sebelah kiri jalan, masuk ke simpang tersebut kira-kira sekitar 100 m untuk menemukan pos pendakian. Lokasi pos ini berada di dekat kebun teh yang setiap liburan semester biasa kami kunjungi dan sudah menjadi tradisi liburan.
Sesampainya disana, kami segera memarkirkan sepeda motor dan melakukan registrasi. Biaya registrasi Rp 10.000,00 per orang dan biaya parkir Rp 10.000,00 untuk satu unit sepeda motor. Kami juga diberi selembar kertas yang berisi peraturan pendakian dan nomor HP yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu. Selepas registrasi kami segera menuju pos 1 pendakian yang sesungguhnya. Yup benar, pos yang tadi hanyalah pos pendaftaran. Pos 1 pendakian yang sesungguhnya masih sekitar 3-4 km lagi yang harus kami tempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya ada sih, ojek yang menyewakan jasanya untuk mengantar sampai pos 1 pendakian dengan tarif Rp 25.000,00 sekali antar. Tetapi kami lebih memilih untuk berjalan kaki menembus malam yang mulai semakin gelap.
Perjalanan menuju pos 1 pendakian melewati hamparan kebun teh yang jika siang hari akan keliatan indah. Di beberapa persimpangan kami sempat merasa bingung jalan mana yang harus diambil. Beruntung ada plat besi yang disebut rambu bertuliskan R04 menjadi petunjuk jalan. Agung mengatakan rambu ini akan ada sepanjang pendakian hingga puncak dengan rambu terakhir bertuliskan R54. Kami juga bertemu dengan beberapa pendaki yang baru turun. Rombongan ini terdiri dari beberapa pendaki laki-laki dan perempuan. Panggilan khas pendaki keluar dari mulut kami, “Bapak… Ibu”, begitu panggilan kami kepada mereka sebagai bentuk keramah tamahan diantara pendaki. Panggilan “Bapak” untuk laki-laki dan “Ibu” untuk perempuan tanpa memandang umur mereka lumrah dijumpai diantara pendaki gunung yang ada di ranah minang sebagai bentuk penghargaan dan persaudaraan antar pendaki.
Sekitar pukul 21.30 WIB kami sampai di pos 1 pendakian yang terletak di R06. Disana berdiri sebuah warung milik warga yang menjual beberapa makanan dan minuman. Di sampingnya juga terdapat camping ground yang bisa digunakan pendaki sebagai tempat untuk berkemah. Dan yang paling membahagiakan adalah terdapat pancuran air yang melimpah yang bisa digunakan pendaki sebagai tempat menambah persediaan air maupun membersihkan diri. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar disana.
Pukul 22.00 WIB kami berangkat menuju pendakian yang sebenarnya. Aku yang hanya mengenakan sandal jepit karena tidak sempat pulang untuk mengganti sepatu, berjalan paling belakang. Selain itu, dari segi perlengkapan, dibanding pendakian sebelumnya, pendakian ke Talang ini merupakan pendakian dengan perlengkapan terminim karena niat kami awalnya hanya berkemah di bukit pinggir kota. Beberapa perlengkapan lainnya yang kami rasa benar-benar perlu, baru kami beli setelah di perjalanan menuju pos registrasi. Saat itu aku hanya mengenakan baju kaos dilapisi jaket dengan celana training dan alas kaki sandal jepit. 
Diantara kami berempat, hanya aku yang belum pernah mendaki Gunung Talang. Agung, Rezki dan Zakhwan telah pernah mendaki Gunung Talang sebelumnya. Namun pada saat itu perjalanan mereka tidak berjalan dengan baik karena cuaca yang buruk dan mengakibatkan jalan yang mereka lalui begitu berlumpur. Kami berdoa semoga perjalanan kali ini berjalan dengan baik. Medan treking awal yang kami tempuh masih berupa jalan lebar dengan perkebunan warga di samping jalan. Tapi medan ini cukup memberatkan karena sangat menanjak. Di akhir tanjakan aku minta break karena kepalaku terasa pusing. Teman-teman menyemangatiku agar santai saja karena kita tidak perlu tergesa-gesa untuk sampai puncak. Kami duduk dibawah pohon besar dengan dedaunan yang menaungi kami. Ketika kami melihat keatas, pemandangan menakjubkan terpampang di hadapan kami. Taburan bintang yang begitu banyak dan terlihat jelas karena jauh dari polusi cahaya. Kami membayangkan bagaimana pemandangan ketika di puncak nanti jika dari bawah saja sudah sangat indah. Aku kembali bersemangat mengingat tujuan kami untuk melihat milky way yang akan sangat jelas terlihat pada malam ini.
Kamipun melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki area semak-semak dengan jalan yang mulai menyempit. Di sebelah kiri terdapat shelter 1 berupa gubug reyot yang hampir roboh. Di dalamnya terdapat beberapa orang yang mengajak kami mampir tapi kami tolak dengan halus karena kami masih harus melanjutkan perjalanan. Setelah shelter 1 pendaki akan mulai memasuki hutan rimba dengan jalan yang semakin menanjak, licin dan udara yang lembab. Di sepanjang jalan terdapat akar dan beberapa pohon tumbang. Menjelang cadas, vegetasi mulai berubah dengan mulai banyaknya bebatuan. Setelah 3 jam perjalanan Agung memberitahu tempat kami akan mendirikan tenda sudah dekat. Suara para pendaki yang telah berada di camping ground mulai terdengar. Berbeda dengan sebelumnya, kami melanjutkan perjalanan dengan memutar ke kanan menuruni tanjakan. Setelah itu kami kembali mendaki bebatuan terjal. Sejujurnya disaat itu aku sudah mulai lelah, aku berkata kepada yang lain agar selepas tanjakan ini kita break dulu sebentar. Setelah diujung tanjakan aku duduk di sebuah batu sambil melihat teman-teman dibelakangku yang masih berusaha untuk mencapai tempatku berada.
Agung yang lebih dahulu sampai ke tempatku berada berkata “Ya, kita memang akan beristirahat disini karena kita telah sampai di tempat yang kita tuju.” Sambil tersenyum dia mendahuluiku. Aku kemudian menoleh ke depan dan jalan beberapa langkah menyusul Agung. Ternyata kami telah sampai di sebuah lapangan rumput luas tempat para pendaki berkemah sebelum summit attack. Aku mengucap syukur sebagai tanda bahagia. Di hadapanku telah berdiri puluhan tenda pendaki lainnya. Ketika menengadah ke langit, aku melihat ribuan bintang terhampar dihadapanku membentuk satu gugusan. Milky way. Rasi bintang-rasi bintang lainnya yang aku tidak tau namanya juga terlihat dengan jelas. Aku selalu suka dengan langit malam, sangat indah dan menakjubkan. Membuat diri kita terasa kecil dibanding luasnya jagat raya. Menyadarkan kalau kita tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta.
Mereview kembali perjalanan kami tadi, menurut pendapat pribadiku trek Talang cukup mudah dibandingkan dengan trek Marapi. Trek Talang memiliki cukup banyak “bonus” (jalan mendatar). Tidak ada juga jalan tikus atau merangkak di selokan air yang harus kami lewati. Jalurnya cukup jelas dengan rambu-rambu di setiap jalan dan waktu tempuh yang hanya sekitar 3 jam dibanding Marapi yang bisa sampai 5 jam. Untuk pendaki yang tidak mau ribet, Gunung Talang bisa jadi pilihan. Salah satu keunggulan Gunung Talang adalah adanya lapangan rumput luas dengan latar belakang puncak Gunung Talang. Jadi pendaki bisa mendirikan tenda tanpa harus takut tidak kebagian tempat. Di tengah-tengah lapangan ini juga terdapat sungai kecil yang membelah lapangan. Airnya jernih dan bisa digunakan pendaki untuk mengisi persediaan air mereka. Hanya saja di bagian yang dekat dengan kemah pendaki airnya sudah keruh, bercampur minyak dan sisa makanan pendaki. Untuk mendapatkan air yang bersih pendaki harus berjalan sedikit ke hulu sungai, ke arah sebelah kiri lapangan.

Pukul 02.00 WIB dinihari tenda selesai didirikan. Rezki dan Zakhwan mengambil air di sungai yang telah diceritakan tadi. Aku dan Agung mencari kayu-kayu kering yang bisa kami bakar. Sejenak kemudian api unggun telah menyala di depan tenda kami. Rezki dan Agung kemudian mulai merebus mie dan membuat kopi. Zakhwan mengeluarkan nasi dan sedikit lauk yang ia bawa dari rumah. Selanjutnya mie kuah tersebut telah berpindah ke piring-piring kami dan dengan tambahan nasi dari zakhwan kami mulai makan. Makanan terenak di dunia. Setelah perjalanan yang melelahkan dan dinginnya malam, apapun yang kami makan terasa nikmat. Kami makan ditemani oleh suara gitar pendaki lain yang menyanyikan lagu-lagu minang dengan semangat. Kami menawarkan makanan kepada pendaki lainnya, dan pendaki lainnya pun menawarkan makanan kepada kami.
Saat kami makan dua orang pria paruh baya dengan senter di tangannya datang dan mengarahkan senternya ke dalam tenda kami. Mereka menanyakan jumlah tim kami dan kemudian berlalu pergi. Agung mengatakan mereka tengah merazia pendaki yang berpasang-pasangan di dalam satu tenda. Mendengar itu kami merasa antara bahagia dan sedih. Bahagia karena tim kami diisi oleh 4 orang cowok, jadi aman dari razia. Dan sedih karena itu semakin menegaskan kejombloan kami. Selepas makan kamipun memadamkan unggun dan memutuskan untuk tidur memulihkan tenaga menjelang summit attack yang direncanakan pukul 04.30 WIB. Rencana hanya tinggal rencana. Pukul 05.15 WIB saat adzan shubuh telah berkumandang 15 menit lalu, Zakhwan baru membangunkan kami untuk sholat Shubuh. Inilah bagian yang paling berat sebenarnya dari pendakian, bangun untuk sholat Shubuh di tengah dinginnya udara pegunungan. Air yang kami sentuh terasa sedingin es. Dengan bergantian dan dalam posisi duduk kami sholat di dalam tenda. Arah kiblat kami perkirakan dengan berpatokan pada arah terbitnya matahari.
Selepas sholat kami putuskan untuk keluar tenda dengan menahan dingin. Kami sempatkan mengambil beberapa foto. Di pagi hari, pemandangan menjadi lebih jelas. Kami berkemah di sisi sebelah kanan gunung dengan di belakang kami ada tebing kecil. Diatas tebing tersebut terdapat beberapa pohon tanpa daun yang aku tidak tau namanya dan bunga Edelweis yang dilarang untuk dipetik. Bagi yang ketahuan membawa turun bunga tersebut maka akan dikenai denda Rp 100.000,00 dan diminta untuk mengembalikan ke puncak gunung. Kami sengaja memilih tempat di dekat tebing agar terhindar dari angin yang dapat memadamkan api unggun kami. Di hadapan kami terlihat puncak Gunung Talang dan kawah yang masih mengeluarkan asap belerang. Sementara jalur menuju puncak berada di sebelah kiri lapangan.
tenda para pendaki dengan latar belakang puncak Gunung Talang
Pukul 08.00 WIB setelah makan pagi, kami berangkat menuju puncak. Dari yang kami ketahui trek menuju puncak akan melewati “cadas”, “hutan mati”, yaitu sekumpulan pohon dan tanah yang telah menghitam karena panasnya kawah dan “jembatan neraka”, yaitu jalur sempit yang di kanan kirinya terdapat jurang sedalam 50 meter. Trek yang kami lewati lebih menanjak lagi dan lebih sempit. Kami hanya membawa air mineral sebagai persiapan bila haus. Perlengkapan lainnya kami tinggalkan di tenda karena hanya akan mempersulit pendakian jika kami bawa. Dari cadas kami bisa melihat dengan jelas Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang. Darisana juga terlihat Gunung Kerinci di provinsi Jambi yang tertutup kabut tipis. Kemudian sederatan Bukit Barisan, Gunung Marapi dan Gunung Singgalang juga keliatan dari sini. Dan lebih membuat takjub lagi kami bisa melihat sebuah pulau di Samudera Hindia yang kami tidak tau namanya. Ranah Minang patut bersyukur dianugerahi alam sedemikian indah.
Danau Diatas, Danau Dibawah dan Danau Talang serta Gunung Kerinci di kejauhan.
Terlihat tenda para pendaki yang berukuran kecil dibagian atas sebelah kanan lapangan rumput

Di perjalanan, kami diberitahu pendaki yang baru dari puncak bahwa diatas sedang ada badai. Angin bertiup sangat kencang dan bisa membahayakan perjalanan. Setelah berembuk, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Mendekati hutan mati, kami merasakan angin yang sangat kencang bertiup tanpa henti. Sangat sulit melangkah karena debu-debu beterbangan mengenai mata kami. Kami harus berlindung dibalik batu besar untuk menghindari angin atau bahkan batu yang jatuh dari atas. Akhirnya dengan perasaan kecewa kami memutuskan untuk kembali ke tenda. Tapi kami tetap bersyukur disuguhi pemandangan yang begitu indah. Pukul 15.00 WIB cuaca semakin buruk dan awan hujan mulai keliatan. Kami segera berkemas dan turun sebelum hujan lebat mengguyur kami. Pukul 17.30 WIB kami sampai di pos 1 pendakian. Kami membersihkan diri di pancuran yang telah tersedia. Hujan gerimis mulai turun dan kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di warung yang ada disana. Setelah gerimis reda perjalanan dilanjutkan menuju pos registrasi. Kembali kami melewati hamparan kebun teh yang kali ini terlihat jelas. Saat jalan menurun, sandal jepitku putus dan membuatku berjalan dengan terseok-seok. Sesampainya di pos registrasi kami melapor ke petugas disana dan kemudian pulang. Di perjalanan kami menyempatkan makan jagung bakar terlebih dahulu. Kami sampai di rumah sekitar pukul 20.00 WIB.
DI Pendakian kali ini kami memang tidak mencapai puncak, tetapi ada yang lebih penting dari puncak yaitu rumah. Kami juga belajar banyak dari perjalanan kali ini, belajar untuk tidak bersifat sombong karena kita hanyalah makhluk kecil dibanding alam semesta yang luas, belajar untuk bersyukur kepada Allah yang memudahkan perjalanan ini, belajar mencintai alam yang telah dikaruniakan Allah kepada ranah Minang ini dan menjaganya agar generasi selanjutnya dapat merasakan keindahan yang sama.
Tidak penting seberapa banyak gunung yang telah kamu daki, tetapi seberapa banyak pelajaran yang bisa kamu dapatkan setelah mendaki gunung.

Terima kasih telah membaca ~