Kehilangan Terhebat #3
Minggu, 23 Agustus 2026.
Minggu
pagi itu, aku berencana pergi ke Sijunjung bersama Gita, istriku, dan mama
mertua. Ada keluarga pekerja kami yang sedang berduka karena kehilangan ayah
mereka. Kami hendak datang untuk takziah.
Sementara di Solok, Oma aku sudah dua hari dirawat sejak hari Jumat di rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, Oma mulai tidak mau makan dan sulit tidur. Selama dua hari di rumah sakit, Papa dan Reyvel bergantian menjaganya. Sebenarnya aku sudah punya rencana mengambil cuti di minggu berikutnya untuk menggantikan Reyvel menjaga Oma, karena setelah libur kuliah ia harus kembali masuk kuliah.
Aku pikir, masih ada waktu. Ternyata, manusia memang sering membuat rencana dengan perasaan bahwa waktu adalah sesuatu yang kita miliki. Padahal waktu hanya sesuatu yang dipinjamkan.
Dalam
perjalanan menuju Sijunjung, kami tertahan di Talang karena buka-tutup jalan
akibat perbaikan. Hampir satu jam kami menunggu. Mama mertua mulai merasa
lelah. Aku kemudian mengatakan bahwa setelah itu masih ada sekitar tiga titik
lagi yang kemungkinan akan mengalami buka-tutup jalan.
Hari sudah menunjukkan sekitar pukul setengah dua belas ketika kami akhirnya bisa melanjutkan perjalanan. Lalu mama mertua berkata,
"Ke
Solok saja. Kita lihat Oma."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku bahagia. Kami pun berbelok menuju Solok.
Sekitar pukul dua belas lewat, mendekati waktu Zuhur, kami sampai di RS M. Natsir. Oma terbaring di sana. Beberapa hari terakhir beliau memang lebih banyak memejamkan mata. Tetapi aku tahu, Oma masih sadar. Ia hanya tidak lagi banyak membuka matanya.
Di ruangan itu aku kaget karena sudah ada Ni Desi, keluarga kami yang sama-sama bersuku Chaniago dan dari "Rumah Gadang" yang sama. Ia ternyata sedang pulang bersama suaminya dari Lampung dan menyempatkan diri mampir untuk melihat Oma. Tak lama kemudian datang Angku Aji, adik laki-laki Oma, bersama istrinya. Papa sedang keluar sebentar karena ada kegiatan.
Tiba-tiba Oma muntah cairan berwarna kuning. Aku bertanya kepada perawat. Katanya itu kemungkinan efek obat demam yang baru diberikan. Napas Oma juga terdengar agak sesak. Kata perawat tunggu saja karena Oksigen sudah dipasang. Oma memang memiliki riwayat batuk karena infeksi di paru-parunya.
Gita kemudian mengambil sendok dan meminumkan air hangat kepada Oma. Sedikit demi sedikit. Oma masih merespons dan mau meminumnya. Gita kemudian mengompres kepala Oma yang demam. Angku meminta Oma berzikir. Gita ikut mendekatkan wajahnya dan membisikkan kalimat tahlil.
"Laa
ilaaha illallah..."
Oma tidak berkata apa-apa. Tetapi alisnya bergerak menandakan beliau merespon.
Angku aji berkata ke Oma, "Ambo tunggu di Aie Batuang". Hatiku berdetak mendengar kalimat itu. Entah kenapa aku merasa waktu Oma tidak lama lagi.
Ni Desi kemudian pamit. Angku dan istrinya juga pulang. Tinggallah aku, Gita, dan mama mertua. Kemudian Gita dan mama mertua pergi ke masjid untuk salat. Aku tinggal berdua dengan Oma.
Aku
menjaga perempuan tua yang sejak kecil menjadi salah satu tempat pulangku.
Beberapa saat kemudian Reyvi menelepon melalui video call. Aku arahkan layar ponsel ke wajah Oma.
"Ini
Reyvi, Ma..."
Aku melihat wajah Oma. Ada sesuatu yang berubah.
Aku
tidak tahu apakah itu benar-benar respons terhadap suara cucunya atau hanya
perasaanku sendiri. Tetapi aku menangkap raut wajah itu sebagai sebuah jawaban.
Seolah Oma masih tahu siapa yang sedang memanggilnya. Setelah telepon berakhir, aku kembali mendekat. Aku membisikkan tahlil di telinga Oma. Aku meminta Oma berzikir, menyebut nama Allah. Alisnya kembali bergerak. Aku terus berada di sana. Kemudian aku duduk sebentar. Ketika aku berdiri lagi, napas Oma terlihat lebih tenang. Aku sempat terkejut. Dalam hati aku takut terjadi sesuatu.
Aku melihat dadanya.
Masih naik.
Masih
turun.
Alhamdulillah, Oma sedang tidur pikirku. Mungkin obatnya sudah mulai bekerja.
Aku tidak tahu bahwa pada saat itulah tubuh Oma sedang perlahan-lahan melepaskan dunia.
Aku kemudian bergantian pergi ke masjid bersama Gita. Dan ketika aku kembali, seorang perawat masuk membawa obat. Aku melihat Oma. Dadanya sudah tidak lagi naik turun. Aku bertanya kepada perawat. Beberapa saat kemudian perawat lain datang. Dokter jaga datang.
Oma
diperiksa.
Dadanya
dipompa, nadi diperiksa, Tekanan darah diperiksa. Jantungnya diperiksa dengan
EKG. Dan pada pukul 14.18 WIB, Ahad, 23 Agustus 2026, Oma dinyatakan meninggal
dunia.
Aku
diam.
Sedih.
Barangkali
ada bagian dari diriku yang masih tidak percaya.
Karena
beberapa menit sebelumnya aku masih melihat dadanya bergerak.
Aku
kemudian berpikir,
Mungkin
Oma memang sedang menungguku.
Menunggu
aku datang.
Menunggu
mendengar suara cucunya.
Menunggu
dibisikkan nama Allah.
Menunggu
tangan orang-orang yang mencintainya berada di dekatnya.
Lalu,
setelah itu, Oma pergi.
Ada
sesuatu yang terasa begitu akrab dalam perpisahan ini.
Ketika
Mama meninggal dulu, aku juga berada di sana. Aku juga ikut melepasnya.
Aku
juga membisikkan kalimat tahlil di telinganya.
Dan
kini, bertahun-tahun kemudian, aku kembali berada di samping seorang perempuan
yang sangat kucintai, melakukan hal yang hampir sama.
Seakan
hidup sedang mengulang sebuah adegan.
Hanya
saja kali ini, perempuan yang kulepas adalah ibunya Mama.
Oma.
Kehilangan ini terasa berbeda. Oma bukan hanya seorang nenek. Setelah Mama pergi, Oma adalah salah satu perempuan yang tersisa yang membuatku merasa masih punya seorang ibu untuk didoakan dan mendoakanku.
Ada sesuatu yang tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini. Rumah akan lebih sunyi.
Tidak
ada lagi cerita Oma.
Tidak
ada lagi suara yang mungkin dulu sering kita anggap biasa.
Tidak
ada lagi sosok tua yang mungkin sesekali membuat kita lelah, tetapi diam-diam
justru menjadi bagian dari alasan rumah terasa seperti rumah.
Semakin
dewasa, aku semakin mengerti bahwa kehilangan bukan hanya tentang seseorang
yang tidak lagi bisa kita temui.
Kehilangan
adalah tentang begitu banyak hal kecil yang tiba-tiba tidak punya tempat lagi.
Tentang
suara yang tidak akan terdengar lagi.
Tentang
kursi yang akan kosong.
Tentang
cerita yang berhenti di tengah jalan.
Tentang
nomor telepon yang tidak akan pernah lagi mengangkat panggilan.
Tentang
doa seorang perempuan tua yang selama ini mungkin tidak pernah kita sadari
betapa besar nilainya.
Dan
mungkin itulah bagian paling menyakitkan dari menjadi dewasa:
"Kita
perlahan menyaksikan satu per satu orang yang kita cintai berjalan lebih dahulu
meninggalkan kita."
Opa.
Kemudian
Mama.
Dan
sekarang Oma.
Kehilangan
terhebat #3.
Tiga
orang yang pernah menjadi bagian penting dari rumah dan hidupku, kini hanya
bisa kutemui melalui ingatan.
Tetapi
di antara kesedihan itu, ada satu hal yang sangat aku syukuri.
Oma
tidak pergi dalam kesendirian.
Ada
Ni Desi, keluarga Chaniago kami di Air Betung, yang datang meski sedang tinggal
jauh di Lampung.
Ada
Angku Aji dan istrinya.
Ada
aku.
Ada
Gita dan mama mertua.
Ada
Papa dan Reyvel yang selama dua hari sebelumnya merawatnya.
Ada
Reyvi yang menyapa melalui layar ponsel.
Ada
Reyvan yang kebetulan sedang di Alahan Panjang bukan Sijunjung, jadi dia bisa
tiba lebih cepat.
Ada
Reysa yang sempat selama sebulan merawat beliau sebelum 2 Minggu lalu balik ke
perantauan.
Ada
orang-orang yang mencintainya dan dicintai olehnya.
Oma
pergi bersama orang-orang yang datang untuk mengantarnya.
Dan
mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan kami yang pagi itu seharusnya menuju
Sijunjung memang sedang diarahkan ke tempat lain.
Kami
pikir kami sedang menuju rumah orang yang sedang berduka.
Ternyata
hari itu, kami sedang menuju rumah sakit untuk menemani seseorang yang akan
menjadi alasan kami sendiri untuk berduka.
------------------------------
Begitulah hidup. Kadang jalan yang ditutup justru membawa kita ke jalan yang seharusnya kita tempuh. Kadang satu jam yang terasa terbuang justru menjadi waktu yang menyelamatkan kita dari penyesalan.
Kalau hari itu jalan di Talang tidak buka-tutup, mungkin kami akan terus menuju Sijunjung. Kalau mama mertua tidak merasa lelah, mungkin kami tidak akan berbelok ke Solok. Kalau kami tidak jadi ke Solok, mungkin aku tidak akan berada di sana pada saat-saat terakhir Oma.
Dan
mungkin, mungkin saja, aku akan menghabiskan sisa hidup dengan satu pertanyaan:
"Kenapa
aku tidak datang?"
Tetapi Allah memberi aku kesempatan.
Kesempatan untuk melihat wajah Oma untuk terakhir kalinya.
Kesempatan
untuk menyentuhnya.
Kesempatan
untuk memberinya minum.
Kesempatan
untuk membisikkan nama Allah.
Kesempatan
untuk menemani detik-detik terakhirnya.
Kesempatan
untuk mengatakan, meski hanya dalam hati:
"Oma,
pergilah dengan tenang."
Kini
Oma tidak sakit lagi.
Tidak
perlu lagi memaksakan mata untuk terbuka.
Tidak
perlu lagi menahan sakit.
Tidak
perlu lagi sulit makan.
Tidak
perlu lagi sulit tidur.
Tidak
perlu lagi bernapas dengan sesak.
Aku
ingin membayangkan bahwa setelah perjalanan panjang itu, Oma akhirnya muda lagi
dan sampai di tempat yang jauh lebih tenang.
Mungkin
di sana Opa sudah menunggu.
Dan
Mama, anak satu-satunya yang lebih dahulu pergi darinya, juga sudah ada di
sana.
Dulu
mungkin aku merasa kematian hanya mengambil orang-orang yang kucintai.
Sekarang
aku mencoba melihatnya dari sisi yang lain:
"Barangkali
kematian hanya memindahkan mereka ke tempat yang untuk sementara belum bisa
kudatangi.
Sampai
suatu hari nanti, jika Allah mengizinkan, kita semua akan bertemu lagi."
Selamat
jalan, Oma.
Terima
kasih sudah menjadi bagian dari hidupku.
Terima
kasih sudah menjadi salah satu perempuan hebat yang tetap ada setelah Mama
pergi.
Sekarang
aku harus belajar menjalani rumah yang lebih sunyi.
Belajar
hidup tanpa cerita-cerita Oma.
Belajar
menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai bisa terus tinggal bersama
kita.
Dan
belajar bahwa mencintai seseorang juga berarti bersedia merelakannya ketika
waktunya pulang telah tiba.
23
Agustus 2026.
Hari
ketika seorang cucu kehilangan neneknya.
Hari
ketika rumah kehilangan salah satu penghuninya.
Hari
ketika aku kembali belajar bahwa hidup ternyata bukan hanya tentang siapa yang
datang.
Tetapi
juga tentang siapa yang akhirnya harus kita lepaskan.
Selamat
jalan, Oma.
Sampaikan
salamku kepada Opa.
Peluk
Mama untukku.
Dan
kalau nanti Mama bertanya bagaimana keadaan anak laki-lakinya setelah ia pergi,
katakan kepadanya:
"Aku
masih berusaha, Ma."
Aku
masih berusaha menjadi anak yang baik.
Menjadi
suami yang baik.
Menjadi
manusia yang lebih baik.
Dan
sekarang, aku akan melanjutkan perjalanan ini dengan membawa doa-doa kalian di
dalam hati.
Semoga
Allah mengampuni segala dosa Oma, menerima seluruh amal baiknya, melapangkan
kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, dan menempatkannya di antara
orang-orang yang dicintai-Nya.
Al-Fatihah
untuk Oma.
Untuk
Opa.
Untuk
Mama.
Tiga
kehilangan terbesar dalam hidupku.
Dan
tiga nama yang tidak akan pernah benar-benar kehilangan tempat di dalam hatiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar