Sabtu, 29 Agustus 2026

Kehilangan Terhebat #3

 


Kehilangan Terhebat #3 

Minggu, 23 Agustus 2026.

Minggu pagi itu, aku berencana pergi ke Sijunjung bersama Gita, istriku, dan mama mertua. Ada keluarga pekerja kami yang sedang berduka karena kehilangan ayah mereka. Kami hendak datang untuk takziah.

Sementara di Solok, Oma aku sudah dua hari dirawat sejak hari Jumat di rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, Oma mulai tidak mau makan dan sulit tidur. Selama dua hari di rumah sakit, Papa dan Reyvel bergantian menjaganya. Sebenarnya aku sudah punya rencana mengambil cuti di minggu berikutnya untuk menggantikan Reyvel menjaga Oma, karena setelah libur kuliah ia harus kembali masuk kuliah.

Aku pikir, masih ada waktu. Ternyata, manusia memang sering membuat rencana dengan perasaan bahwa waktu adalah sesuatu yang kita miliki. Padahal waktu hanya sesuatu yang dipinjamkan.

Dalam perjalanan menuju Sijunjung, kami tertahan di Talang karena buka-tutup jalan akibat perbaikan. Hampir satu jam kami menunggu. Mama mertua mulai merasa lelah. Aku kemudian mengatakan bahwa setelah itu masih ada sekitar tiga titik lagi yang kemungkinan akan mengalami buka-tutup jalan.

Hari sudah menunjukkan sekitar pukul setengah dua belas ketika kami akhirnya bisa melanjutkan perjalanan. Lalu mama mertua berkata,

"Ke Solok saja. Kita lihat Oma."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku bahagia. Kami pun berbelok menuju Solok.

 

Sekitar pukul dua belas lewat, mendekati waktu Zuhur, kami sampai di RS M. Natsir. Oma terbaring di sana. Beberapa hari terakhir beliau memang lebih banyak memejamkan mata. Tetapi aku tahu, Oma masih sadar. Ia hanya tidak lagi banyak membuka matanya.

Di ruangan itu aku kaget karena sudah ada Ni Desi, keluarga kami yang sama-sama bersuku Chaniago dan dari "Rumah Gadang" yang sama. Ia ternyata sedang pulang bersama suaminya dari Lampung dan menyempatkan diri mampir untuk melihat Oma. Tak lama kemudian datang Angku Aji, adik laki-laki Oma, bersama istrinya. Papa sedang keluar sebentar karena ada kegiatan.

Tiba-tiba Oma muntah cairan berwarna kuning. Aku bertanya kepada perawat. Katanya itu kemungkinan efek obat demam yang baru diberikan. Napas Oma juga terdengar agak sesak. Kata perawat tunggu saja karena Oksigen sudah dipasang. Oma memang memiliki riwayat batuk karena infeksi di paru-parunya.

Gita kemudian mengambil sendok dan meminumkan air hangat kepada Oma. Sedikit demi sedikit. Oma masih merespons dan mau meminumnya. Gita kemudian mengompres kepala Oma yang demam. Angku meminta Oma berzikir. Gita ikut mendekatkan wajahnya dan membisikkan kalimat tahlil.

"Laa ilaaha illallah..."

Oma tidak berkata apa-apa. Tetapi alisnya bergerak menandakan beliau merespon.

Nenek kemudian mencoba juga memberi oma minum namun kali ini tidak seluruhnya yang masuk ke mulut, ada juga yang tertumpah mengalir ke dagu.

Angku aji berkata ke Oma, "Ambo tunggu di Aie Batuang". Hatiku berdetak mendengar kalimat itu. Entah kenapa aku merasa waktu Oma tidak lama lagi. 

Ni Desi kemudian pamit. Angku dan istrinya juga pulang. Tinggallah aku, Gita, dan mama mertua. Kemudian Gita dan mama mertua pergi ke masjid untuk salat. Aku tinggal berdua dengan Oma.

Aku menjaga perempuan tua yang sejak kecil menjadi salah satu tempat pulangku.

Beberapa saat kemudian Reyvi menelepon melalui video call. Aku arahkan layar ponsel ke wajah Oma.

"Ini Reyvi, Ma..."

Aku melihat wajah Oma. Ada sesuatu yang berubah.

Aku tidak tahu apakah itu benar-benar respons terhadap suara cucunya atau hanya perasaanku sendiri. Tetapi aku menangkap raut wajah itu sebagai sebuah jawaban.

Seolah Oma masih tahu siapa yang sedang memanggilnya. Setelah telepon berakhir, aku kembali mendekat. Aku membisikkan tahlil di telinga Oma. Aku meminta Oma berzikir, menyebut nama Allah. Alisnya kembali bergerak. Aku terus berada di sana. Kemudian aku duduk sebentar. Ketika aku berdiri lagi, napas Oma terlihat lebih tenang. Aku sempat terkejut. Dalam hati aku takut terjadi sesuatu. 

Aku melihat dadanya. 

Masih naik.

Masih turun.

Alhamdulillah, Oma sedang tidur pikirku. Mungkin obatnya sudah mulai bekerja.

Aku tidak tahu bahwa pada saat itulah tubuh Oma sedang perlahan-lahan melepaskan dunia. 

Aku kemudian bergantian pergi ke masjid bersama Gita. Dan ketika aku kembali, seorang perawat masuk membawa obat. Aku melihat Oma. Dadanya sudah tidak lagi naik turun. Aku bertanya kepada perawat. Beberapa saat kemudian perawat lain datang. Dokter jaga datang.

Oma diperiksa.

Dadanya dipompa, nadi diperiksa, Tekanan darah diperiksa. Jantungnya diperiksa dengan EKG. Dan pada pukul 14.18 WIB, Ahad, 23 Agustus 2026, Oma dinyatakan meninggal dunia.

----------------------------- 

Aku diam.

Sedih.

Barangkali ada bagian dari diriku yang masih tidak percaya.

Karena beberapa menit sebelumnya aku masih melihat dadanya bergerak.

Aku kemudian berpikir,

Mungkin Oma memang sedang menungguku.

Menunggu aku datang.

Menunggu mendengar suara cucunya.

Menunggu dibisikkan nama Allah.

Menunggu tangan orang-orang yang mencintainya berada di dekatnya.

Lalu, setelah itu, Oma pergi.

Ada sesuatu yang terasa begitu akrab dalam perpisahan ini.

Ketika Mama meninggal dulu, aku juga berada di sana. Aku juga ikut melepasnya.

Aku juga membisikkan kalimat tahlil di telinganya.

Dan kini, bertahun-tahun kemudian, aku kembali berada di samping seorang perempuan yang sangat kucintai, melakukan hal yang hampir sama.

Seakan hidup sedang mengulang sebuah adegan.

Hanya saja kali ini, perempuan yang kulepas adalah ibunya Mama.

Oma.

Kehilangan ini terasa berbeda. Oma bukan hanya seorang nenek. Setelah Mama pergi, Oma adalah salah satu perempuan yang tersisa yang membuatku merasa masih punya seorang ibu untuk didoakan dan mendoakanku.

Ada sesuatu yang tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini. Rumah akan lebih sunyi.

Tidak ada lagi cerita Oma.

Tidak ada lagi suara yang mungkin dulu sering kita anggap biasa.

Tidak ada lagi sosok tua yang mungkin sesekali membuat kita lelah, tetapi diam-diam justru menjadi bagian dari alasan rumah terasa seperti rumah.

Semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang tidak lagi bisa kita temui.

Kehilangan adalah tentang begitu banyak hal kecil yang tiba-tiba tidak punya tempat lagi.

Tentang suara yang tidak akan terdengar lagi.

Tentang kursi yang akan kosong.

Tentang cerita yang berhenti di tengah jalan.

Tentang nomor telepon yang tidak akan pernah lagi mengangkat panggilan.

Tentang doa seorang perempuan tua yang selama ini mungkin tidak pernah kita sadari betapa besar nilainya.

Dan mungkin itulah bagian paling menyakitkan dari menjadi dewasa:

"Kita perlahan menyaksikan satu per satu orang yang kita cintai berjalan lebih dahulu meninggalkan kita."

Opa.

Kemudian Mama.

Dan sekarang Oma.

Kehilangan terhebat #3.

Tiga orang yang pernah menjadi bagian penting dari rumah dan hidupku, kini hanya bisa kutemui melalui ingatan.

Tetapi di antara kesedihan itu, ada satu hal yang sangat aku syukuri.

Oma tidak pergi dalam kesendirian.

Ada Ni Desi, keluarga Chaniago kami di Air Betung, yang datang meski sedang tinggal jauh di Lampung.

Ada Angku Aji dan istrinya.

Ada aku.

Ada Gita dan mama mertua.

Ada Papa dan Reyvel yang selama dua hari sebelumnya merawatnya.

Ada Reyvi yang menyapa melalui layar ponsel.

Ada Reyvan yang kebetulan sedang di Alahan Panjang bukan Sijunjung, jadi dia bisa tiba lebih cepat.

Ada Reysa yang sempat selama sebulan merawat beliau sebelum 2 Minggu lalu balik ke perantauan.

Ada orang-orang yang mencintainya dan dicintai olehnya.

Oma pergi bersama orang-orang yang datang untuk mengantarnya.

Dan mungkin, tanpa kami sadari, perjalanan kami yang pagi itu seharusnya menuju Sijunjung memang sedang diarahkan ke tempat lain.

Kami pikir kami sedang menuju rumah orang yang sedang berduka.

Ternyata hari itu, kami sedang menuju rumah sakit untuk menemani seseorang yang akan menjadi alasan kami sendiri untuk berduka.

------------------------------

Begitulah hidup. Kadang jalan yang ditutup justru membawa kita ke jalan yang seharusnya kita tempuh. Kadang satu jam yang terasa terbuang justru menjadi waktu yang menyelamatkan kita dari penyesalan.

Kalau hari itu jalan di Talang tidak buka-tutup, mungkin kami akan terus menuju Sijunjung. Kalau mama mertua tidak merasa lelah, mungkin kami tidak akan berbelok ke Solok. Kalau kami tidak jadi ke Solok, mungkin aku tidak akan berada di sana pada saat-saat terakhir Oma.

Dan mungkin, mungkin saja, aku akan menghabiskan sisa hidup dengan satu pertanyaan:

"Kenapa aku tidak datang?"

Tetapi Allah memberi aku kesempatan. 

Kesempatan untuk melihat wajah Oma untuk terakhir kalinya.

Kesempatan untuk menyentuhnya.

Kesempatan untuk memberinya minum.

Kesempatan untuk membisikkan nama Allah.

Kesempatan untuk menemani detik-detik terakhirnya.

Kesempatan untuk mengatakan, meski hanya dalam hati:

"Oma, pergilah dengan tenang."

Kini Oma tidak sakit lagi.

Tidak perlu lagi memaksakan mata untuk terbuka.

Tidak perlu lagi menahan sakit.

Tidak perlu lagi sulit makan.

Tidak perlu lagi sulit tidur.

Tidak perlu lagi bernapas dengan sesak.

Aku ingin membayangkan bahwa setelah perjalanan panjang itu, Oma akhirnya muda lagi dan sampai di tempat yang jauh lebih tenang.

Mungkin di sana Opa sudah menunggu.

Dan Mama, anak satu-satunya yang lebih dahulu pergi darinya, juga sudah ada di sana.

Dulu mungkin aku merasa kematian hanya mengambil orang-orang yang kucintai.

Sekarang aku mencoba melihatnya dari sisi yang lain:

"Barangkali kematian hanya memindahkan mereka ke tempat yang untuk sementara belum bisa kudatangi.

Sampai suatu hari nanti, jika Allah mengizinkan, kita semua akan bertemu lagi."

Selamat jalan, Oma.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku.

Terima kasih sudah menjadi salah satu perempuan hebat yang tetap ada setelah Mama pergi.

Sekarang aku harus belajar menjalani rumah yang lebih sunyi.

Belajar hidup tanpa cerita-cerita Oma.

Belajar menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai bisa terus tinggal bersama kita.

Dan belajar bahwa mencintai seseorang juga berarti bersedia merelakannya ketika waktunya pulang telah tiba.

23 Agustus 2026.

Hari ketika seorang cucu kehilangan neneknya.

Hari ketika rumah kehilangan salah satu penghuninya.

Hari ketika aku kembali belajar bahwa hidup ternyata bukan hanya tentang siapa yang datang.

Tetapi juga tentang siapa yang akhirnya harus kita lepaskan.

Selamat jalan, Oma.

Sampaikan salamku kepada Opa.

Peluk Mama untukku.

Dan kalau nanti Mama bertanya bagaimana keadaan anak laki-lakinya setelah ia pergi, katakan kepadanya:

"Aku masih berusaha, Ma."

Aku masih berusaha menjadi anak yang baik.

Menjadi suami yang baik.

Menjadi manusia yang lebih baik.

Dan sekarang, aku akan melanjutkan perjalanan ini dengan membawa doa-doa kalian di dalam hati.

Semoga Allah mengampuni segala dosa Oma, menerima seluruh amal baiknya, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, dan menempatkannya di antara orang-orang yang dicintai-Nya.

Al-Fatihah untuk Oma.

Untuk Opa.

Untuk Mama.

Tiga kehilangan terbesar dalam hidupku.

Dan tiga nama yang tidak akan pernah benar-benar kehilangan tempat di dalam hatiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar